Home About the Dance Dance Updates Reviews Where to Learn Where to Dance Online Shop

Google   
 
Web www.dancetalk.net


 

 

Reviews

 

Topik dalam halaman ini:

  1. Burn The Floor (Dance Performance)

  2. Dance With The Wind (Movie)

  3. Innocent Steps (Movie)

  4. Take The Lead (Movie)

  5. Shall We Dance? (Movie)

  6. Dance With Me (Movie)


Burn the Floor (Dance Performance)

Ulasan oleh: Dina Begum

Wajib ditonton & dikoleksi penikmat ballroom dance!!

Burn The Floor adalah sebuah sensasi tari yang mengejutkan dunia seperti halilintar. Sebuah perjalanan menggebu lewat tarian yang akan membawa Anda
masuk ke sebuah pembukaan yang anggun dan indah menuju inti yang penuh emosi dan gairah dalam passionata, hingga sampai pada puncak tarian yang menakjubkan dalam "Would You Like To Dance With Me".

Burn The Floor menerima tepukan panjang dan menerima pujian luas di seluruh dunia untuk kemeriahan, energi, bakat dan gairahnya. Pertunjukan ini
menampilkan sebuah ballroom yang baru dan menciptakan sebuah tarian
spektakuler di milenium baru ini.

Back to Top


Dance With The Wind (Movie)

Ulasan Film Oleh: Desi Sudardjat untuk PT. PASOS de BAILE Events

30 Januari 2006

Dance with the Wind Sebuah film Korea yang menceritakan perjalanan hidup Poongshik yang sangat mencintai Dansa namun hidup dalam masyarakat yang masih memandang rendah aktivitas ini. Film yang diperankan oleh Lee Seong-Jae, Park Sol-Mi, Kim Soo-Ro, Lee Kan-Hee, Moon Jung-Hee, dan Kim Se-Dong ini diwarnai sedikit humor, perjuangan, dan tentu saja menyuguhkan Dansa sebagai menu utamanya.

Film ini dimulai dengan adegan dimana Yeonhwa, seorang detektif wanita, mendapatkan tugas dari atasannya di kepolisian, petugas Park, untuk melakukan penyamaran dalam rangka menangkap Poongshik, seorang pria berusia 30 tahunan yang dicurigai sering melakukan penipuan terhadap wanita-wanita kaya dengan menggunakan daya tarik dansa. Tugas Yeonhwa adalah mendapatkan bukti berupa pengakuan Poongshik mengenai kejahatan yang dilakukannya.

Alur cerita film ini tidak membutuhkan analisa yang berat, namun juga bukan jenis film yang manis dan ringan. Dengan dibumbui sedikit humor, jika kita menelaah lebih dalam, film ini sesungguhnya menceritakan pandangan masyarakat awam pada umumnya mengenai Dansa Ballroom, dan bahwa untuk mengubah pandangan itu tidaklah mudah. Sekedar hobi, peluk-pelukan di bar, mungkin itulah hal yang terlintas di kepala masyarakat ketika mendengar kata Dansa. Namun Dansa bisa berarti segalanya bagi orang-orang yang benar-benar mengerti dan mencintainya. Film ini dapat menggugah kesadaran para pedansa dan juga masyarakat pada umumnya. Ini bukan film yang hanya sekedar bercerita tentang cinta dan kompetisi seperti film-film bertema dansa pada umumnya, namun tentang orang-orang biasa yang mencintai dansa dan tentang keagungan dansa itu sendiri.

Back to Top


 

Innocent Steps (Movie)

 

Ulasan Film Oleh: Desi Sudardjat untuk PT. PASOS de BAILE Events

19 Desember 2005

 

Ringkasan:

Ini adalah sebuah film Korea yang menyentuh hati tentang cinta dan keindahan dancesport. Film ini juga menunjukkan sejauh mana popularitas olah raga dansa di Korea. Berbahasa Korea dengan teks terjemahan Inggris dan telah diputar di bioskop-bioskop di Singapura. Film ini diwarnai sedikit komedi, air mata, dan daya tarik dansa.

 

Menampilkan:

Moon Geun Yeong sebagai JANG Chae Ryn, Park Geon Hyeong sebagai NA Young Sae, Yoon Chan sebagai JUNG Hyng Soo

 

Komentar:

 

Standar dansa – sebagai seseorang yang bukan pedansa sungguhan ,cukup baik, namun tidak mengesankan. Mungkin setara dengan standar pedansa “Novice” (peringkat C). Dikatakan bahwa pemeran Chae Ryn berlatih 10 jam sehari selama tiga bulan untuk dapat berdansa di film ini. Jika kita mengambil kelas 1 jam perhari, sekali seminggu, maka itu berarti 17,3 tahun! Dansa yang dipertunjukkan: Rumba, Samba, dan Chacha (oleh Chae Ryn dan dua pasangannya), dengan sepotong Jive dan Paso Doble (oleh pedansa lainnya). Dia cukup baik melakukan putaran-putarannya, tetapi kurang dalam gerakan pinggul, tubuh, dan lengan. Kurang dalam “rasa”. Namun untuk seseorang yang hanya berlatih selama tiga bulan, ia bisa dikatakan sangat baik.

 

Alur cerita – Ringan. Cerita yang manis dan menghangatkan hati dengan akhir yang cukup mengharukan, dimana Young Sae mengalami cedera dan membuatnya tidak dapat menari lagi. Menurut saya pribadi hal ini sangat bagus karena tidak menjadi akhir yang “sempurna” seperti film bertema dansa pada umumnya. Namun, kejahatan Hyng Soo dalam kompetisi di awal film terasa terlalu berlebihan. Juga karena di akhir kompetisi Hyng Soo dan Chae Ryn berhasil meraih posisi pertama, padahal seperti telah diulas sebelumnya, kita bisa melihat kemampuan berdansa kedua aktor dan aktris yang memerankannya tidak mengesankan. Jika di akhir cerita akan memenangkan kompetisi, seharusnya mereka bisa menampilkan tarian yang lebih mengesankan sehingga penonton lebih puas. Secara keseluruhan alur ceritanya juga dapat ditebak.

Akting – Bagus. Kita dipaksa untuk tertawa dan menangis di beberapa bagian. Berhasil menyentuh emosi orang yang melihat.

 

Kesimpulan – Sangat bisa dinikmati (selain beberapa hal yang mengganjal tadi). Dianjurkan untuk menonton bagi penggemar dansa atau penggemar film Korea.

 

Back to Top

 


 

Take the Lead (Movie)

 

Ulasan Film Oleh: Desi Sudardjat untuk DanceTalk

14 Januari 2007

Ringkasan:

Film ini menceritakan kelamnya kehidupan anak-anak kulit hitam di sebuah SMU yang terletak di pelosok kota New York yang berubah setelah bertemu Pierre Dulaine, seorang guru dan kompetitor Dansa Ballroom dari Manhattan. Pierre Dulaine secara sukarela mengajarkan Ballroom Dance sebagai ganti atas “hukuman tidak boleh mengikuti pelajaran” yang biasa diterapkan sekolah tersebut kepada murid-murid yang melakukan pelanggaran. Awalnya anak-anak tersebut menolak, namun kekuatan komitmen dan dedikasi Mr. Dulaine telah menggugah hati dan pikiran mereka untuk mengikuti kelas dansa tersebut dan menggabungkannya dengan gaya Hip Hop mereka yang unik. Namun hal terpenting yang mereka pelajari adalah nilai-nilai kehidupan mengenai kebanggaan, penghargaan, percaya diri, dan kehormatan.

Menampilkan:

Antonio Banderas, Rob Brown, Yaya Dacosta, Dante Basco, John Ortiz, Katya Virshilas, dan Marcus T. Paulk.

Komentar:

Standar dansa – Cukup mengesankan hanya ketika Mr. Dulaine menarikan Argentine Tango. Dia cukup baik melakukan “lead” sehingga pasangannya dapat menari dengan indah, dan ekspresi yang ditampilkanpun cukup baik.

Alur cerita – Sebenarnya tema yang disuguhkan dalam film ini cukup menarik. Nilai-nilai yang disampaikan pun cukup dalam, mengenai kelamnya kehidupan anak-anak kulit hitam dan perjuangan mereka untuk memperbaikinya. Bukan jenis film yang ringan dan manis, justru sebaliknya, sangat gelap dan keras. Namun menurut saya pribadi, ada beberapa detail yang sebenarnya tidak perlu dimasukkan kedalam cerita, yang justru mengganggu alur cerita secara keseluruhan. Misalnya mengenai lomba dansa di akhir cerita yang mungkin dimaksudkan sebagai klimaks tetapi malah menjadi anti-klimaks dan terasa berlebihan. Juga mengenai elemen percintaan Mr. Dulaine yang hanya disajikan sedikit saja, tidak menonjol dan tidak penting tetapi tetap ditampilkan. Selain itu, sebagai film bergenre “Dansa”, film ini kurang banyak menyuguhkan adegan dansa yang mengesankan. Sebenarnya film ini akan lebih menarik jika alur cerita difokuskan pada kehidupan anak-anak tersebut dan bagaimana mereka berubah menjadi lebih baik dengan bantuan Mr. Dulaine, atau jika ditambahkan adegan-adegan dansa yang mengesankan.

Akting – Bagus, cukup berhasil membangun suasana yang sedikit terganggu oleh alur cerita yang kurang fokus.

Kesimpulan – Jika diberi rate satu sampai lima, maka film ini saya beri nilai 3. Namun nilai-nilai moral yang disampaikan membuat film ini layak disimak.

Back to Top

 


Shall We Dance? (Movie)

Ulasan film oleh: Desi Sudardjat untuk DanceTalk

27 Februari 2007

A totally delightful film overflowing with passion for life, love and ballroom dancing (Betty Jo Tucker, REELTALK MOVIE REVEWS)

Ringkasan:

Film ini menceritakan perjalanan hidup John Clark, seorang pria dengan pekerjaan mapan, istri yang cantik dan baik, serta anak-anak yang menyenangkan, namun masih saja merasakan kekosongan jauh di sudut hatinya. Sampai suatu malam dalam perjalanan pulang ke rumah, dia melihat seorang wanita cantik menatap kosong melalui jendela sebuah studio dansa.

Dihantui oleh bayang-bayang wanita itu, suatu hari John secara impulsif turun dari kereta dan mendaftar pada sebuah kelas dansa di studio dansa tersebut....dan seluruh hidupnya mulai berubah.

Menampilkan:

Richard Gere, Jennifer Lopez, Susan Sarandon, dan Stanley Tucci.

Komentar:

Standar Dansa – Tidak ada yang luar biasa. Jennifer Lopez berdansa cukup baik -- kita tahu ia memang bisa menari -- namun tidak terlihat seperti kompetitor dansa sungguhan, apalagi dalam film ini ia memerankan seorang kompetitor profesional yang pernah berlaga di Blackpool Dance Festival. Tapi kita bisa melihat dansa yang bagus yang dilakukan oleh pedansa-pedansa “sungguhan”, seperti Slavik Kryklyvyy dan Karina Smirnoff (dalam kehidupan nyata, saat itu mereka termasuk tiga besar pasangan kompetitor latin profesional dunia), dan pedansa-pedansa lainnya.

Alur cerita – Sangat inspiratif. Walaupun masih terdapat adegan-adegan standar dalam film ini (saya menyebut standar untuk adegan “kompetisi”), namun masih dapat dibilang penting dan memang dibutuhkan sebagai salah satu “goal” dalam perjalanan hidup John Clark. Lagipula adegan ini tidak terasa dipaksakan hingga merusak alur cerita keseluruhan. Sedangkan secara keseluruhan, film ini sangat menumbuhkan inspirasi bagi penontonnya. Kehidupan yang sempurna belum tentu membuat seseorang merasa utuh (complete). John Clark menyadari sesuatu yang kurang dalam hidupnya itu adalah “Excitement”....dan ia menemukannya di kelas dansa. Melakukan sesuatu yang sangat disukai akan membuat hidup terasa utuh. Sungguh merupakan cerita yang menghangatkan hati.

Akting – Bagus. Kita bisa tertawa, menangis, dan bersemangat saat melihat adegan-adegan yang diperankan oleh para aktor dan aktris yang terlibat. Film ini pasti akan berhasil menyentuh emosi para penonton.

Kesimpulan – Sangat dianjurkan terutama bagi mereka yang belum mengenal dansa, juga bagi para pecinta dansa, dan orang-orang yang sedang mencari inspirasi dalam hidup. Menurut saya pribadi, ini adalah salah satu film dansa dengan tema terbaik dari semua film dansa yang pernah ada.

Back to Top

 


Dance With Me (Movie)

Ulasan film oleh: Desi Sudardjat untuk DanceTalk

26 Maret 2007

 

 

Ringkasan:

 

Sebuah film lama (tahun 1998) yang berlatar belakang dansa dan cinta. Diawali dengan kepergian Rafael, seorang pemuda Cuba, untuk bekerja di sebuah studio dansa di Houston yang membawanya tenggelam dalam kisah cintanya bersama Ruby, seorang competitor dansa profesional dan juga pengajar di studio dansa tempat Rafael bekerja. Film ini juga menyingkap rahasia kisah ayah-anak antara John Burnett, sang pemilik studio dansa dan Rafael serta masa lalu Ruby yang suram saat ditinggal begitu saja oleh mantan partner dansanya saat ia mengandung anak dari laki-laki itu. Di akhir cerita kita digiring ke dalam gemerlapnya World Dancing Competition, dimana Rafael ikut serta dalam kategori ShowDance. Ia dan partnernya berhasil memenangkan kompetisi. Sedangkan Ruby berkompetisi dalam kategori Profesional Latin berpasangan dengan mantan partner yang juga merupakan ayah dari anaknya yang kini sudah berusia lima tahun. Akhirnya, di pemunculan pertamanya setelah absen selama lima tahun karena melahirkan dan membesarkan anak seorang diri, Ruby berhasil menjadi World Champion of Professional latin Dance dalam kejuaraan dunia yang digelar di Las Vegas tersebut. Kemudian kisah cinta Rafael dan Ruby yang diwarnai konflikpun bersemi kembali saat mereka bertemu di sebuah club dimana para kompetitor berdansa dengan bebas, merayakan kerja keras mereka di lantai kompetisi.

 

 

Menampilkan:

 

Chayanne sebagai Rafael dan Vanessa Williams sebagai Ruby

 

Komentar:

 

Standar dansa – mengesankan. Diantara semua film bertema dansa, baru kali ini saya melihat bintang film yang benar-benar bisa menari. Kita bisa melihat power dan fleksibilitas yang baik dari Chayanne dan Vanessa. Karakter dari tarianpun mampu mereka tampilkan dengan cukup baik layaknya kompetitor dansa sungguhan. Komentator luar negeri memberikan komentar bahwa kali ini bintang filmnya benar-benar jago dansa. Menurut sumber Hollywood, Vanessa Williams dilatih khusus selama 5 bulan supaya menjadi pedansa tangguh, sebelum pengambilan gambar.

Alur cerita – menarik. Walaupun tema yang digarap sangat standar (kisah cinta dan kompetisi), namun alurnya terasa alami dan tidak tidak dibuat-buat. Intrik-intrik yang disajikanpun cukup mampu mengusik emosi kita. Dalam film ini kita bisa melihat kehidupan dari para kompetitor dansa, diatas dan diluar lantai dansa, juga kehidupan pribadi dengan segala permasalahannya. Dan ketika kita akhirnya dibawa kedalam sebuah kompetisi dansa, hal inipun mampu menjadi klimaks film karena pengambilan gambar yang baik dengan durasi yang pas, juga para penari dan bintang film yang benar-benar bisa menari, kostum, musik, dan suasana yang ditampilkan sangat menyerupai keadaan yang sebenarnya. Kita seakan-akan dibawa kedalam sebuah World Dance Competition yang sesungguhnya.

 

Akting – bagus. Seluruh pendukung film ini berakting dengan baik dan menari dengan baik.

 

Kesimpulan – Sangat direkomendasikan untuk ditonton. Para pecinta dansa yang belum pernah menonton sangat dianjurkan untuk melihatnya. Saya pribadi sudah menonton film ini berkali-berkali dan tidak pernah merasa bosan.

 

Back to Top

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Check these out!

 

Online Beauty Biz

Have your own online business at home!

www.online-beauty.biz

 

Warung Yoghurt

Fresh, Healthy, and Natural Home-made Yoghurt

www.warungyoghurt.com

 

TDW University

By Tung Desem Waringin

www.tdwuniversity.com/launch/?id=10003

 

 

 

 

DanceTalk Community | Contact us | General Resources | Privacy Policy | Terms of Service

 

Copyrights © 2007 - 2009 DanceTalk.net All rights reserved

Site development by: Desi Sudardjat