|
|
|||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||
|
|
Reviews
Topik dalam halaman ini: Burn the Floor (Dance Performance)Ulasan oleh: Dina Begum
Wajib ditonton & dikoleksi
penikmat ballroom dance!! Ulasan Film Oleh: Desi Sudardjat untuk PT. PASOS de BAILE Events 30 Januari 2006 Dance with the Wind Sebuah film Korea yang menceritakan perjalanan hidup Poongshik yang sangat mencintai Dansa namun hidup dalam masyarakat yang masih memandang rendah aktivitas ini. Film yang diperankan oleh Lee Seong-Jae, Park Sol-Mi, Kim Soo-Ro, Lee Kan-Hee, Moon Jung-Hee, dan Kim Se-Dong ini diwarnai sedikit humor, perjuangan, dan tentu saja menyuguhkan Dansa sebagai menu utamanya. Film ini dimulai dengan adegan dimana Yeonhwa, seorang detektif wanita, mendapatkan tugas dari atasannya di kepolisian, petugas Park, untuk melakukan penyamaran dalam rangka menangkap Poongshik, seorang pria berusia 30 tahunan yang dicurigai sering melakukan penipuan terhadap wanita-wanita kaya dengan menggunakan daya tarik dansa. Tugas Yeonhwa adalah mendapatkan bukti berupa pengakuan Poongshik mengenai kejahatan yang dilakukannya. Alur cerita film ini tidak membutuhkan analisa yang berat, namun juga bukan jenis film yang manis dan ringan. Dengan dibumbui sedikit humor, jika kita menelaah lebih dalam, film ini sesungguhnya menceritakan pandangan masyarakat awam pada umumnya mengenai Dansa Ballroom, dan bahwa untuk mengubah pandangan itu tidaklah mudah. Sekedar hobi, peluk-pelukan di bar, mungkin itulah hal yang terlintas di kepala masyarakat ketika mendengar kata Dansa. Namun Dansa bisa berarti segalanya bagi orang-orang yang benar-benar mengerti dan mencintainya. Film ini dapat menggugah kesadaran para pedansa dan juga masyarakat pada umumnya. Ini bukan film yang hanya sekedar bercerita tentang cinta dan kompetisi seperti film-film bertema dansa pada umumnya, namun tentang orang-orang biasa yang mencintai dansa dan tentang keagungan dansa itu sendiri.
Ulasan Film Oleh: Desi Sudardjat untuk PT. PASOS de BAILE Events 19 Desember 2005
Ringkasan: Ini adalah sebuah film Korea yang menyentuh hati tentang cinta dan keindahan dancesport. Film ini juga menunjukkan sejauh mana popularitas olah raga dansa di Korea. Berbahasa Korea dengan teks terjemahan Inggris dan telah diputar di bioskop-bioskop di Singapura. Film ini diwarnai sedikit komedi, air mata, dan daya tarik dansa.
Menampilkan: Moon Geun Yeong sebagai JANG Chae Ryn, Park Geon Hyeong sebagai NA Young Sae, Yoon Chan sebagai JUNG Hyng Soo
Komentar:
Standar dansa – sebagai seseorang yang bukan pedansa sungguhan ,cukup
baik, namun tidak mengesankan. Mungkin setara dengan standar
pedansa “Novice” (peringkat C). Dikatakan bahwa pemeran Chae Ryn
berlatih 10 jam sehari selama tiga bulan untuk dapat berdansa di
film ini. Jika kita mengambil kelas 1 jam perhari, sekali seminggu,
maka itu berarti 17,3 tahun! Dansa yang dipertunjukkan: Rumba,
Samba, dan Chacha (oleh Chae Ryn dan dua pasangannya), dengan
sepotong Jive dan Paso Doble (oleh pedansa lainnya). Dia cukup
baik melakukan putaran-putarannya, tetapi kurang dalam gerakan
pinggul, tubuh, dan lengan. Kurang dalam “rasa”. Namun untuk
seseorang yang hanya berlatih selama tiga bulan, ia bisa dikatakan
sangat baik.
Alur cerita – Ringan. Cerita yang manis dan menghangatkan hati
dengan akhir yang cukup mengharukan, dimana Young Sae mengalami
cedera dan membuatnya tidak dapat menari lagi. Menurut saya
pribadi hal ini sangat bagus karena tidak menjadi akhir yang
“sempurna” seperti film bertema dansa pada umumnya. Namun,
kejahatan Hyng Soo dalam kompetisi di awal film terasa terlalu
berlebihan. Juga karena di akhir kompetisi Hyng Soo dan Chae Ryn
berhasil meraih posisi pertama, padahal seperti telah diulas
sebelumnya, kita bisa melihat kemampuan berdansa kedua aktor dan
aktris yang memerankannya tidak mengesankan. Jika di akhir cerita
akan memenangkan kompetisi, seharusnya mereka bisa menampilkan
tarian yang lebih mengesankan sehingga penonton lebih puas. Secara
keseluruhan alur ceritanya juga dapat ditebak.
Akting – Bagus. Kita dipaksa untuk tertawa dan menangis di
beberapa bagian. Berhasil menyentuh emosi orang yang melihat.
Kesimpulan – Sangat bisa dinikmati (selain beberapa hal yang
mengganjal tadi). Dianjurkan untuk menonton bagi penggemar dansa
atau penggemar film Korea.
Back to Top
Ulasan Film Oleh: Desi Sudardjat untuk DanceTalk
14 Januari 2007
Ringkasan:
Film ini menceritakan kelamnya kehidupan anak-anak kulit hitam di
sebuah SMU yang terletak di pelosok kota New York yang berubah
setelah bertemu Pierre Dulaine, seorang guru dan kompetitor Dansa
Ballroom dari Manhattan. Pierre Dulaine secara sukarela mengajarkan
Ballroom Dance sebagai ganti atas “hukuman tidak boleh mengikuti
pelajaran” yang biasa diterapkan sekolah tersebut kepada murid-murid
yang melakukan pelanggaran. Awalnya anak-anak tersebut menolak,
namun kekuatan komitmen dan dedikasi Mr. Dulaine telah menggugah
hati dan pikiran mereka untuk mengikuti kelas dansa tersebut dan
menggabungkannya dengan gaya Hip Hop mereka yang unik. Namun hal
terpenting yang mereka pelajari adalah nilai-nilai kehidupan
mengenai kebanggaan, penghargaan, percaya diri, dan kehormatan.
Menampilkan:
Antonio Banderas, Rob Brown, Yaya Dacosta, Dante Basco, John Ortiz,
Katya Virshilas, dan Marcus T. Paulk.
Komentar:
Standar dansa – Cukup mengesankan hanya ketika Mr. Dulaine
menarikan Argentine Tango. Dia cukup baik melakukan “lead”
sehingga pasangannya dapat menari dengan indah, dan ekspresi yang
ditampilkanpun cukup baik.
Alur cerita – Sebenarnya tema yang disuguhkan dalam film ini cukup
menarik. Nilai-nilai yang disampaikan pun cukup dalam, mengenai
kelamnya kehidupan anak-anak kulit hitam dan perjuangan mereka
untuk memperbaikinya. Bukan jenis film yang ringan dan manis,
justru sebaliknya, sangat gelap dan keras. Namun menurut saya
pribadi, ada beberapa detail yang sebenarnya tidak perlu
dimasukkan kedalam cerita, yang justru mengganggu alur cerita
secara keseluruhan. Misalnya mengenai lomba dansa di akhir cerita
yang mungkin dimaksudkan sebagai klimaks tetapi malah menjadi
anti-klimaks dan terasa berlebihan. Juga mengenai elemen
percintaan Mr. Dulaine yang hanya disajikan sedikit saja, tidak
menonjol dan tidak penting tetapi tetap ditampilkan. Selain itu,
sebagai film bergenre “Dansa”, film ini kurang banyak menyuguhkan
adegan dansa yang mengesankan. Sebenarnya film ini akan lebih
menarik jika alur cerita difokuskan pada kehidupan anak-anak
tersebut dan bagaimana mereka berubah menjadi lebih baik dengan
bantuan Mr. Dulaine, atau jika ditambahkan adegan-adegan dansa
yang mengesankan.
Akting – Bagus, cukup berhasil membangun suasana yang sedikit
terganggu oleh alur cerita yang kurang fokus.
Kesimpulan – Jika diberi rate satu sampai lima, maka film ini saya
beri nilai 3. Namun nilai-nilai moral yang disampaikan membuat
film ini layak disimak.
Ulasan film oleh: Desi Sudardjat untuk DanceTalk
27 Februari 2007
A totally delightful film overflowing with passion for life, love
and ballroom dancing
(Betty Jo Tucker, REELTALK MOVIE REVEWS)
Ringkasan:
Film ini menceritakan perjalanan hidup John Clark, seorang pria
dengan pekerjaan mapan, istri yang cantik dan baik, serta anak-anak
yang menyenangkan, namun masih saja merasakan kekosongan jauh di
sudut hatinya. Sampai suatu malam dalam perjalanan pulang ke rumah,
dia melihat seorang wanita cantik menatap kosong melalui jendela
sebuah studio dansa.
Dihantui oleh bayang-bayang wanita itu, suatu
hari John secara impulsif turun dari kereta dan mendaftar pada
sebuah kelas dansa di studio dansa tersebut....dan seluruh hidupnya
mulai berubah.
Menampilkan:
Richard Gere, Jennifer Lopez, Susan Sarandon, dan Stanley Tucci.
Komentar:
Standar Dansa – Tidak ada yang luar biasa. Jennifer Lopez berdansa
cukup baik -- kita tahu ia memang bisa menari -- namun tidak
terlihat seperti kompetitor dansa sungguhan, apalagi dalam film
ini ia memerankan seorang kompetitor profesional yang pernah
berlaga di Blackpool Dance Festival. Tapi kita bisa melihat dansa
yang bagus yang dilakukan oleh pedansa-pedansa “sungguhan”,
seperti
Slavik Kryklyvyy dan Karina Smirnoff
(dalam kehidupan nyata, saat itu mereka termasuk tiga besar
pasangan kompetitor latin profesional dunia), dan pedansa-pedansa
lainnya.
Alur cerita – Sangat inspiratif. Walaupun masih terdapat
adegan-adegan standar dalam film ini (saya menyebut standar untuk
adegan “kompetisi”), namun masih dapat dibilang penting dan memang
dibutuhkan sebagai salah satu “goal” dalam perjalanan hidup
John Clark. Lagipula adegan ini tidak terasa dipaksakan hingga
merusak alur cerita keseluruhan. Sedangkan secara keseluruhan,
film ini sangat menumbuhkan inspirasi bagi penontonnya. Kehidupan
yang sempurna belum tentu membuat seseorang merasa utuh (complete).
John Clark menyadari sesuatu yang kurang dalam hidupnya itu adalah
“Excitement”....dan ia menemukannya di kelas dansa. Melakukan
sesuatu yang sangat disukai akan membuat hidup terasa utuh.
Sungguh merupakan cerita yang menghangatkan hati.
Akting – Bagus. Kita bisa tertawa, menangis, dan bersemangat saat
melihat adegan-adegan yang diperankan oleh para aktor dan aktris
yang terlibat. Film ini pasti akan berhasil menyentuh emosi para
penonton.
Kesimpulan – Sangat dianjurkan terutama bagi mereka yang belum
mengenal dansa, juga bagi para pecinta dansa, dan orang-orang yang
sedang mencari inspirasi dalam hidup. Menurut saya pribadi, ini
adalah salah satu film dansa dengan tema terbaik dari semua film
dansa yang pernah ada.
Ulasan film oleh: Desi Sudardjat untuk DanceTalk 26 Maret 2007
Ringkasan:
Sebuah film lama (tahun 1998) yang berlatar belakang dansa dan cinta. Diawali dengan kepergian Rafael, seorang pemuda Cuba, untuk bekerja di sebuah studio dansa di Houston yang membawanya tenggelam dalam kisah cintanya bersama Ruby, seorang competitor dansa profesional dan juga pengajar di studio dansa tempat Rafael bekerja. Film ini juga menyingkap rahasia kisah ayah-anak antara John Burnett, sang pemilik studio dansa dan Rafael serta masa lalu Ruby yang suram saat ditinggal begitu saja oleh mantan partner dansanya saat ia mengandung anak dari laki-laki itu. Di akhir cerita kita digiring ke dalam gemerlapnya World Dancing Competition, dimana Rafael ikut serta dalam kategori ShowDance. Ia dan partnernya berhasil memenangkan kompetisi. Sedangkan Ruby berkompetisi dalam kategori Profesional Latin berpasangan dengan mantan partner yang juga merupakan ayah dari anaknya yang kini sudah berusia lima tahun. Akhirnya, di pemunculan pertamanya setelah absen selama lima tahun karena melahirkan dan membesarkan anak seorang diri, Ruby berhasil menjadi World Champion of Professional latin Dance dalam kejuaraan dunia yang digelar di Las Vegas tersebut. Kemudian kisah cinta Rafael dan Ruby yang diwarnai konflikpun bersemi kembali saat mereka bertemu di sebuah club dimana para kompetitor berdansa dengan bebas, merayakan kerja keras mereka di lantai kompetisi.
Menampilkan:
Chayanne sebagai Rafael dan Vanessa Williams sebagai Ruby
Komentar:
Standar dansa – mengesankan. Diantara semua film bertema dansa, baru kali ini saya melihat bintang film yang benar-benar bisa menari. Kita bisa melihat power dan fleksibilitas yang baik dari Chayanne dan Vanessa. Karakter dari tarianpun mampu mereka tampilkan dengan cukup baik layaknya kompetitor dansa sungguhan. Komentator luar negeri memberikan komentar bahwa kali ini bintang filmnya benar-benar jago dansa. Menurut sumber Hollywood, Vanessa Williams dilatih khusus selama 5 bulan supaya menjadi pedansa tangguh, sebelum pengambilan gambar.
Alur cerita – menarik. Walaupun tema yang digarap sangat standar (kisah cinta dan kompetisi), namun alurnya terasa alami dan tidak tidak dibuat-buat. Intrik-intrik yang disajikanpun cukup mampu mengusik emosi kita. Dalam film ini kita bisa melihat kehidupan dari para kompetitor dansa, diatas dan diluar lantai dansa, juga kehidupan pribadi dengan segala permasalahannya. Dan ketika kita akhirnya dibawa kedalam sebuah kompetisi dansa, hal inipun mampu menjadi klimaks film karena pengambilan gambar yang baik dengan durasi yang pas, juga para penari dan bintang film yang benar-benar bisa menari, kostum, musik, dan suasana yang ditampilkan sangat menyerupai keadaan yang sebenarnya. Kita seakan-akan dibawa kedalam sebuah World Dance Competition yang sesungguhnya.
Akting – bagus. Seluruh pendukung film ini berakting dengan baik dan menari dengan baik.
Kesimpulan – Sangat direkomendasikan untuk ditonton. Para pecinta dansa yang belum pernah menonton sangat dianjurkan untuk melihatnya. Saya pribadi sudah menonton film ini berkali-berkali dan tidak pernah merasa bosan.
|
|
|
|
|||||||||||||||||||||
|
DanceTalk Community | Contact us | General Resources | Privacy Policy | Terms of Service
Copyrights © 2007 - 2009 DanceTalk.net All rights reserved Site development by: Desi Sudardjat
|
|||||||||||||||||||||||||